<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sang Ayu Udara</title>
	<atom:link href="http://sangayuudara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sangayuudara.wordpress.com</link>
	<description>I&#039;m just an ordinary person who is not smart enough in any field. I can only learn from the experience of his own and others&#039; experiences. I will pursue knowledge and technology until whenever. This youth I would use to try everything. Everything that could increase my scientific knowledge.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 11:30:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sangayuudara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sang Ayu Udara</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sangayuudara.wordpress.com/osd.xml" title="Sang Ayu Udara" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sangayuudara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ALAT-ALAT PERAGA DALAM PENYULUHAN KESEHATAN MASYARAKAT</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/alat-alat-peraga-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/alat-alat-peraga-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[1. Papan pengumuman Papan pengumuman adalah salah satu media komunikasi kelompok yang biasanya ditujukan untuk target sasaran dalam lingkup tertentu. Dasar pembuatannya adalah sebuah papan informasi tradisional yang biasanya dibuat dari kayu, plastik, stereofoam, white board, dll. Papan pengumuman elektronik dibuat dari monitor TV atau LCD yang tersambung dengan komputer kontrol yang akan menampilkan slide/flash [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=291&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Papan pengumuman</strong><br />
Papan pengumuman adalah salah satu media komunikasi kelompok yang biasanya ditujukan untuk target sasaran dalam lingkup tertentu. Dasar pembuatannya adalah sebuah papan informasi tradisional yang biasanya dibuat dari kayu, plastik, stereofoam, white board, dll. Papan pengumuman elektronik dibuat dari monitor TV atau LCD yang <span id="more-291"></span>tersambung dengan komputer kontrol yang akan menampilkan slide/flash yang berisi informasi.<br />
<strong>Kegunaaan</strong> : sbg media penyampaian pesan dan informasi yang memiliki jangka waktu yang cukup panjang dalam penggunaannya.<br />
<strong>Keuntungan</strong> :<br />
• Dapat dikerjakan dengan mudah<br />
• Merangsang perhatian orang<br />
• Menghemat waktu dan membiarkan pembaca untuk belajar masalah yang ada<br />
• Merangsang partisipasi<br />
• Sebagai review/reminder terhadap bahan yang pernah diajarkan.<br />
<strong>2. Over Head Projector (OHP)</strong><br />
Overhead Projector (OHP), yang diterjemahkan projektor lintas kepala adalah projektor yang dipergunakan untuk memprojeksikan objek diam yang tembus cahaya (transparan). Projeksi diterima oleh layar atau alternatifnya, sebagai misal dinding. Objek yang dimaksud adalah filem transparansi (misal: polifinil asetat) yang diberi tulisan atau gambar, sehingga bila diprojeksikan, pada layar akan tergambar bayangan tulisan atau gambar yang ada pada film transparansi.<br />
<strong>Kegunaan</strong> : OHP adalah salah satu jenis alat (pesawat) projektor yang digunakan untuk memproyeksikan (memantulkan) objek yang tembus cahaya (transparan) ke permukaan layar.<br />
<strong>Keuntungan</strong> : Dibandingkan dengan projektor yang lain, OHP mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: (1) ruang presentasi tidak perlu dipergelap, (2) komunikator atau guru dapat selalu menghadap kepada khalayak atau kelas, (3) pembuatan perangkat lunak (transparansi) relatif mudah, cepat, dan murah, (4) filem transparansi dapat dipergunakan berulang kali, (5) dapat dipergunakan sebagai pengganti papan tulis, dengan menulis langsung pada filem transparansi kosong yang berada pada kaca landasan, sambil OHP dinyalakan.</p>
<p><strong>3. Kertas Plip Chart dan penyangganya</strong><br />
Plifchar adalah gambar yang dibuat di atas sehelai kertas tebal. Penggunaan chart inidengan cara membuka atau membalik ke belakang. Pada chart ini menggunakan gambar-gambar tunggal.<br />
<strong>Kegunaan</strong>: untuk membantu dalam intearksi proses belajar mengajar di kelas atau umum, untuk membantu menyajikan suatuinformasi bahan pelajaran yang berurutan yang ternyata sukar diperlihatkan pada satulembar<br />
<strong>Keuntungan</strong> :<br />
• Berisikan gambar – gambar untuk menjelaskan pesan yang hendak disampaikan<br />
• Di lembar sebaliknya terdapat kalimat penjelasan gambar<br />
• Mudah dibawa oleh penyuluh<br />
• Ukuranya sesuai dengan target/jumlah peserta<br />
• Gambar yang ditayangkan menarik, mudah dipahami dan sesuai dengan penjelasan yang disampaikan</p>
<p><strong>4. Poster</strong><br />
Poster adalahmedia yangdigunakanuntuk menyampaikan suatuinformasi,saran atau ide-ide tertentu sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut<br />
<strong>Kegunaan :</strong><br />
a.Motivasi<br />
Penggunaan poster dalam pengajaran/pendidikan kesehatan adalah sebgai pendorongatau motivasi kegiatan belajar-mengajar. Diskusi dapat dilakukan setelahdiperlihatkan sebuah poster mengenai sesuatu topik tertentu<br />
b.Sebagai peringatan<br />
Poster bisa menyadarkan setiap sasaran, pesan melalui poster yang tepat akanmembantu masnyadarkan sasaran sehingga bisa diharapkan untuk merubah perilakudalam praktek sehari-hari<br />
c.Pengalaman yang kreatif<br />
Sebagai alat bantu mengajar poster memberi kemungkinan untuk belajar kreatif dan partisipatif. Poster dapat memberikan pengalaman baru sehingga menumbuhkankraetivitas sasaran dengan cara belajar<br />
d.kreativitas<br />
Sebagai bahan untuk mengembangkan ide/kreativitas, Sebagai bahan pelajaran untuk suatu topik atau masalah tertentu, Sebagai petunjuk untuk dikerjakan peserta didik, Sebagai alat pendidikan preventif.</p>
<p><strong>-Keuntungan :</strong><br />
a.Dapat membantu pembimbing dalam menyampaikan pelajaran dan membantu peserta forum untuk belajar.<br />
b. Menarik perhatian, dengan demikian mendorong peserta untuk lebih giat belajar.<br />
c. Dapat dipasang/ditempelkan di mana-mana, sehingga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari dan mengingat kembali apa yang telah dipelajari.<br />
d. Dapat menyarankan perubahan tingkah laku kepada peserta didik yang melihatnya.</p>
<p><strong>5. Flash card</strong><br />
Adalah sebuah alat praga yangterbuat dari kartondan merupakansuatu rangkaiancerita yangtersusun danmempunyaiukuran normal 25x 30 cm<br />
<strong>Kegunaan</strong> : dipergunakan didalam pertemuan kelompok yang beranggotakan 30orang apabila jumlahnya lebih banyak lagi maka biasanya kurang cocok karena tidak semua orang dapat melihat engan jelas gambar/cerita tersebut<br />
<strong>Keuntungan :</strong><br />
Bisa disimpan dengan mudah<br />
Tidak membutuhkan tempat yang khusus<br />
Mudah dibawa kemana-mana<br />
Pokok pembicaraan mudah diingat karena disajikan dalam bentuk cerita gambar</p>
<p><strong>6. Model</strong><br />
Model disebut juga dengan benda tiruan, yang ukurannya lain dari benda sesungguhnya. Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik, stereofoam, dll.<br />
<strong>Kegunaan</strong> : sebagai alat peraga, misalnya dalam promosi kesehatan<br />
<strong>Keuntungan</strong> : mudah dibawa karena bisa bersifat lebih kecil dari benda asli, lebih praktis</p>
<p><strong>7. Leaflet</strong><br />
Leaflet adalah selembar kertas yang berisi tulisan cetak tentang sesuatu masalah khususuntuk suatu sasaran dengan tujuan tertentu.<br />
<strong>Penggunaan Leaflet</strong><br />
Untuk mengingatkan kembali hal-hal yang pernah dipelajari<br />
Biasanya leaflet diberikan kepada sasaran setelah selesai pelajaran/penyuluhan ataudapat juga diberikan sewaktu kampanye untuk memperkuat ide yang disampaikan</p>
<p><strong>Keuntungan Leaflet</strong><br />
Dapat disimpan lama dan jika lupa dapat dilihat kembali<br />
Dapakai dipakai sebagai bahan rujukan<br />
Isi dapat dipercaya karena dikeluarkan oleh instansi resmi<br />
Jangkauannya sangat luas dan dapat membantu media lain<br />
Dapat dipakai untuk bahan diskusi pada kesempatan yang berbeda</p>
<p><strong>8. Film</strong><br />
Merupakan media presentasi berbasis audiovisual<br />
<strong>Kegunaan</strong>: Menambah wawasan siswa dalam memahami contoh nyata dari fenomena permukaan bumi, sehingga materi yang diterima siswa bukan hanya sekedar teori tetapi pemahaman dan pengalaman audio visual.<br />
<strong>Keuntungan</strong> : (1) Film dapat menyajikan kejadian-kejadian masa lampau yang tidak mungkin terulang kembali. Hal ini dapat diperlihatkan oleh film dokumenter.<br />
(2) Film dapat menyajikan kejadian-kejadian yang berlangsung lama dalam waktu yang singkat. Misalnya perubahan-perubahan pada manusia, hewan, atau tumbuhan, dari bayi kecil sampai dewasa, dari biji jagung sampai menjadi tumbuhan jagung yang besar dan berubah hanya dalam beberapa menit saja.<br />
(3) Film dapat menyajikan kejadian-kejadian yang penting-penting saja dari suatu kejadian atau peristiwa yang panjang. Dengan teknik editing hal-hal yang dianggap tidak perlu dihilangkan.<br />
(4) Film dapat mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu. Dengan demikian dapat memperluas cakrawala pengetahuan manusia.<br />
(5) Dengan teknik “fotomikrografi” kita dapat mengikuti perkembangan organisme benda-benda kecil yang sebenarnya hanya dapat dilihat melalui mikroskop saja.<br />
(6) Dengan teknik ’slow motion’ kita dapat mengikuti suatu gerakan lambat dari suatu aktivitas obyek yang sebenarnya berlangsung sangat cepat.<br />
(7) Film dapat mempengaruhi emosi. Dengan kemampuan kamera dan teknik cinematografi dapat menyajikan perasaan, kesedihan, kegembiraan, ataupun kekejaman secara jelas. Dengan demikian penonton dapat meng¬identifikasikan secara emosional dengan apa yang ditontonnya.<br />
(8) Dengan teknik pengambilan/shooting yang sempurna, film dapat memberikan pengalaman estetis yang memuaskan dan lain dengan yang dilihat secara langsung.<br />
(9) Dengan film dapat mengembangkan daya imajinasi anak/ penonton.<br />
(10) Dengan semua keistimewaan di atas, maka film menarik, memuaskan dan mempertinggi perhatian anak/penonton.</p>
<p><strong>9. Slide Projector</strong><br />
Slides adalah bidang transparan yang bergambar. Bidang transparan itu dapat berupa kaca, plastik jernih atau seluloid. Gambar transparan tersebut kemudian diproyeksikan melalui alat yang disebut Slides Projector. Gambarnya bisa berupa hasil lukisan tangan, tetapi pada umumnya merupakan hasil pemotretan yaitu dengan menggunakan film 35 mm khusus untuk membuat slide.<br />
<strong>Kegunaan</strong> : menampilkan bayangan sebuah gambar positif yang dapat ditembus cahaya.<br />
<strong>Keuntungan</strong> : (1) Pembuatannya relatif mudah, demikian pula cara mengoperasi-kan proyektor slide tidak memerlukan ketrampilan teknis yang rumit. (2) Tiap gambar slide dapat dipertunjukkan satu persatu selama diperlukan dan akan memberikan kesempatan kepada penonton untuk memperhatikan lebih mendetail. (3) Kalau ada sebuah atau beberapa slide saja yang rusak atau tidak cocok lagi dengan keadaan, slide tersebut mudah disingkirkan dan diganti yang baru. (4) Karena gambar atau frame-frame yang terpisah, maka pembimbing mudah mengatur/ menyusun kembali penyajiannya sesuai dengan urutan sajian yang diinginkan. (5) Slide sudah dibuat duplikatnya. Dengan alat tertentu slide mudah untuk diperbanyak. Makin banyak sekolah yang membutuhkan slide tersebut berarti biaya produksi makin murah. (6) Slide dapat dipergunakan untuk pengajaran klasifikal, kelompok kecil maupun secara individual. (7) Tidak memerlukan banyak tempat untuk penyimpanannya.<br />
<strong>10. Bahan-bahan asli</strong> : benda yang sesungguhnya baik hidup maupun mati. Merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah serta cepat dikenal, mempunyai bentuk serta ukuran yang tepat.<br />
<strong>Kegunaan</strong> : memberikan gambaran nyata kepada peserta didik<br />
<strong>Keuntungan :</strong><br />
• Dapat menghindari salah pengertian/pemahaman atau salah tafsir.<br />
• Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.<br />
• Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat karena lebih mengesankan.<br />
• Dapat menarik serta memusatkan perhatian.<br />
• Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>REFERENSI</p>
<p><object id="doc_756141731997855" name="doc_756141731997855" height="600" width="600" type="application/x-shockwave-flash" data="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf" style="outline:none;"><param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf"><param name="wmode" value="opaque"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="FlashVars" value="document_id=53643096&#038;access_key=key-14luso8b4mqsyw71l49b&#038;page=1&#038;viewMode=list"><embed id="doc_756141731997855" name="doc_756141731997855" src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=53643096&#038;access_key=key-14luso8b4mqsyw71l49b&#038;page=1&#038;viewMode=list" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="600" width="600" wmode="opaque" bgcolor="#ffffff"></embed></object></p>
<p>Hamalik, U. 1980. Media pendidikan. Bandung: Alumni.</p>
<p>http://dosen.fip.um.ac.id/sihkabuden/?p=17</p>
<p>http://somelus.wordpress.com/2010/04/02/pengembangan-penyuluhan-melalui-media-cetak/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=291&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/alat-alat-peraga-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODE-METODE DALAM PENYULUHAN KESEHATAN MASYARAKAT (PKM)</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/metode-metode-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat-pkm/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/metode-metode-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat-pkm/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:39:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[DISKUSI KELOMPOK &#160; Pengertian Diskusi kelompok adalah suatu percakapan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih, melalui proses bertukar pikiran dan argumentasi kearah pemecahan masalah secara bersama-sama. Proses diskusi kelompok ini dapat dilakukan melalui forum diskusi diikuti oleh semua peserta di dalam kelas dapat pula dibentuk kelompok-kelompok lebih kecil. Ciri2 : -       para peserta dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=289&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://belajar-ajaran.blogspot.com/2010/04/1-diskusi-kelompok.html">DISKUSI KELOMPOK</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pengertian</strong></p>
<p>Diskusi kelompok adalah suatu percakapan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih, melalui proses bertukar pikiran dan argumentasi kearah pemecahan masalah secara bersama-sama. Proses diskusi kelompok<span id="more-289"></span> ini dapat dilakukan melalui forum diskusi diikuti oleh semua peserta di dalam kelas dapat pula dibentuk kelompok-kelompok lebih kecil.</p>
<p><strong>Ciri2 :</strong></p>
<p>-       para peserta dapat melibatkan dirinya untuk ikut berpartisipasi secara aktif di dalam forum</p>
<p>-       pembimbing memberi kesempatan kepada peserta (kelompok peserta) untuk mengadakan percakapan guna mengumpulkan pendapat</p>
<p>-       kesimpulan dibuat anggota sebagai alternative pemecahan atas masalah</p>
<p>-       gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati)  oleh peserta lain</p>
<p><strong>Keuntungan Diskusi Kelompok</strong></p>
<p>Diskusi kelompok merupakan salah satu pengalaman belajar yang diterapkan di semua bidang studi dalam batasan-batasan tertentu, pengalaman diskusi kelompok memberikan keuntungan bagi para peserta sebagai berikut : 1) peserta dapat berbagi berbagai informasi dalam menjalani gagasan baru atau memecahkan masalah, 2) dapat meningkatkan pemahaman atas masalah-masalah penting, 3) dapat mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi, 4) dapat meningkatkan ketertiban dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dan 5) dapat membina semangat kerjasama dan bertanggung jawab.</p>
<p><strong>Kelemahan-kelemahan Diskusi Kelompok</strong></p>
<p>Diskusi kelompok memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan dalam arti tidak tercapai tujuan yang diinginkan. Wardani (Dalam Puger, 1997 : 9) dinyatakan bahwa kelemahan-kelemahan dalam diskusi kelompok antara lain : 1) diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar yang biasa, 2) dapat memboroskan waktu terutama bila terjadi hal-hal yang negatif seperti pengarahan yang kurang tepat, 3) anggota yang kurang agresif (pendiam, pemalu) sering tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya sehingga terjadi frustasi atau penarikan diri dan 4) adakala hanya didominasi oleh orang-orang tertentu saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING)</strong></p>
<p><strong>Pengertian</strong></p>
<p>Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana, pada penggunaan metode curah pendapat. Tujuan curah pendapat adalah  untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi,  pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (<em>mind map</em>) untuk menjadi pembelajaran bersama.</p>
<p><strong>Kelebihan:</strong></p>
<p>-       mendapatkan ide yang banyak dari sekelompok orang dalam waktu singkat.</p>
<p>-       daya imajinasi dan daya kreativitas berpikir menjadi berkembang karena menggunakan berbagainalternatif</p>
<p><strong>Kekurangan :</strong></p>
<p>- terlalu banyak pertukaran pendapat dan gagasan sehingga cenderung timbul keributan</p>
<p>- akibat waktu yang dibutuhkan pendek, sehingga materi tidak diperiksa keunggulannya</p>
<p>- anggota harus aktif karena semua diharapkan mengusulkan aspirasinya</p>
<p>- Tidak diketahui hasil akhir</p>
<p>- Pimpinan harus menguasai topik, untuk mencari solusi</p>
<p><strong>Ciri Curah Pendapat</strong></p>
<ol>
<li>Jumlah peserta tidak terlalu besar, paling besar 15 orang.</li>
<li>Setiap peserta bebas mengemukakan gagasan yang muncul di benaknya.</li>
<li>Setiap gagasan akan diterima dan diinvetarisasi dan peserta lain tidak boleh memberikan komentar langsung.</li>
<li>Semua peserta mendiskusikan dan mengevaluasi gagasan yang sudah diinventarisir.</li>
<li>Selanjutnya ditemukan gagasan tertentu yang dianggap baik(feasible).</li>
<li>pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi</li>
<li>Inventarisasi gagasan dengan [pengelompokan gagasan yang feasibledilakukan, gagasan yang layak diperhatikan dan gagasan yang kontroversial.</li>
<li>Waktu 45 – 60 menit.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BERMAIN PERAN (ROLE-PLAYING)</strong></p>
<p><strong>Pengertian</strong></p>
<p>Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk  ‘menghadirkan’  peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap .</p>
<p><strong>Ciri2 :</strong></p>
<p>-       lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.</p>
<p>-       anggota dapat mendramatisasikan tingkah laku atau ungkapan gerak gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antar manusia</p>
<p><strong>a)Kelebihan metode  bermain peran</strong></p>
<p>Peserta lebih tertarik perhatiannya pada pelajaran</p>
<p>Karena mereka bermain peran sendiri, maka mudah memahami masalah-masalah sosial tersebut</p>
<p>Bagi peserta dengan bermain peran sebagai orang lain, maka ia dapat menempatkan diri seperti watak orang lain itu</p>
<p>Ia dapat merasakan perasaan orang lain sehingga menumbuhkan sikap saling perhatian</p>
<p><strong>b)Kelemahan metode  bermain peran</strong></p>
<p>Bila pembimbing tidak menguasai tujuan instrusional penggunaan teknik ini untuk sesuatu unit pelajaran, maka sosiodrama tidak akan berhasil</p>
<p>Dalam hubungan antar manusia selalu memperhatikan norma-norma kaidah sosial, adat istiadar, kebiasaan, dan keyakinan seseorang jangan sampai ditinggalkan sehingga tidak menyinggung perasaan seseorang</p>
<p>Bila pembimbing tidak memahami langkah-langkah pelaksanaan metode ini, maka akan mangacaukan berlangsungnya sosiodrama</p>
<p><strong>DEMONSTRASI</strong></p>
<p><strong>Pengertian</strong></p>
<p>Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta.</p>
<p><strong>Ciri-ciri demonstrasi</strong> : memperlihatkan pada kelompok bagaimana prosedur untuk</p>
<p>membuat sesuatu, dapat meyakinkan peserta bahwa mereka dapat melakukannya dan</p>
<p>dapat meningkatkan minat sasaran untuk belajar.</p>
<p><strong>Keuntungan demonstrasi</strong> : kegiatan</p>
<p>ini dapat memberikan suatu keterampilan tertentu kepada kelompok sasaran, dapat</p>
<p>memudahkan berbagai jenis penjelasan karena penggunaan bahasa yang lebih</p>
<p>terbatas, membantu sasaran untuk memahami dengan jelas jalannya suatu proses</p>
<p>prosedur yang dilakukan.</p>
<p><strong>Kerugian demonstrasi</strong> : tidak dapat dilihat oleh sasaran</p>
<p>apabila alat yang digunakan terlalu kecil atau penempatannya kurang pada tempatnya,</p>
<p>uraian atau penjelasan yang disampaikan kurang jelas, waktu yang disediakan</p>
<p>terbatas sehingga sasaran tidak dapat diikutsertakan (Taufik, 2007)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SEMINAR</strong></p>
<p>Seminar adalah kegiatan belajar mengajar yang melibatkan sekelompok orang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam atau dianggap mendalam tentang sesuatu hal, dan membahas hal tersebut bersama-sama dengan tujuan agar setiap peserta dapat saling belajar dan berbagi pengalaman dengan rekannya.</p>
<p><strong>Ciri2 :</strong></p>
<p>-            Tersedianya ruang seminar</p>
<p>-          adanya Peserta (kurang lebih 30 orang)</p>
<p>-             Ada Moderator (pakar, pengajar, dll) yang tentunya sudah memiliki pengalaman di bidangnya</p>
<p>-           Adanya pengaturan Jalannya seminar, misalnya waktu untuk penjelasan dan waktu peserta untuk bertanya kepada moderator</p>
<p>-       ada kesimpulan di akhir acara dan bahkan kadang ada rekomendasi sepanjang ada sesuatu yang harus ditindak lanjuti.</p>
<p>-        Saat tanya jawab ada yang meminta penjelasan dan klarifikasi, ada yang mendengarkan dan menyimak, sebagian menyetujui dan terkadang ada yang berpendapat lain menyangkut pandangan</p>
<p>-       hakekatnya adalah teori belajar kognitif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kekuatan:</strong></p>
<p>-       Membantu pengajar melatihkan pertumbuhan sikap positif dalam diri peserta didik, sekaligus memperkaya pengetahuan mereka disuatu bidang ilmu.</p>
<p>-       Memberikan kesempatan untuk berinteraksi secara kreatif dengan orang lain.</p>
<p>-       Peserta mendapatkan keterangan teoritis yang luas dan mendalam tentang masalah yang diseminarkan</p>
<p>-       Peserta mendapatkan petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugasnya</p>
<p>-       Peserta dibina untuk bersikap dan berfikir secara ilmiah</p>
<p>-       Terpupuknya kerja sama antar peserta</p>
<p>-       Terhubungnya lembaga pendidikan dan masyarakat</p>
<p><strong>Kelemahan:</strong></p>
<p>-       Model ini hanya dapat dilakukan apabila peserta didik telah mengatahui teori-teori tentang topik seminar.</p>
<p>-       Sulit digunakan dalam kondisi yang tidak kondusif (suasana tidak demokratis, peserta cenderung diam).</p>
<p>-       Memerlukan waktu yang lama</p>
<p>-       Peserta menjadi kurang aktif</p>
<p>-       Membutuhkan penataan ruang tersendiri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MODEL PANEL</strong></p>
<p>Diskusi panel merupakan salah satu bentuk diskusi yang melibatkan beberapa pembicara kunci yang disebut panelis. Dengan dipandu oleh Moderator, para panelis mencoba membahas masalah-masalah kontroversial yang potensial dan mengundang pendapat yang bertentangan.</p>
<p><strong>Ciri model Diskusi Panel.</strong></p>
<p>Topik berbagai masalah yang kontroversial.</p>
<p>Jumlah peserta 20 – 40 orng.</p>
<p>Panelis ditunjuk dari peserta dan sebagai pembicara (bisa 2 orang).</p>
<p>Ada moderator yang mengatur lalu lintas pembicaraan.</p>
<p>Panelis dan moderator dipilih floor.</p>
<p>Ada peserta yang ditunjuk sebagai pengamat.</p>
<p><strong>Kelemahan :</strong></p>
<ul>
<li>Membangkitkan pikiran.</li>
<li>Mengemukakan pandangan yang berbeda-beda.</li>
<li>Mendorong ke analisis lebih lanjut.</li>
<li>Memanfaatkan para ahli untuk berpendapat dan proses pemikirannya dapat membelajarkan orang lain.</li>
</ul>
<p><strong>Kelebihan :</strong></p>
<ul>
<li>Mudah tersesat bila moderator tidak terampil.</li>
<li>Memungkinkan panelis berbicara terlalu banyak.</li>
<li>Tidak memberi kesempatan peserta untuk berbicara.</li>
<li>Cenderung menjadi serial pidato pendek.</li>
<li>Membutuhkan persiapan yang cukup masak.</li>
</ul>
<p><strong>STUDI KASUS</strong></p>
<p>Metode kasus merupakan metode penyajian pelajaran dengan memanfaatkan kasus yang ditemui peserta sebagai bahan pelajaran kemudian kasus tersebut dibahas bersama untuk mendapatkan penyelesaian atau jalan keluar.</p>
<p><strong>Ciri2</strong> :berbentuk penjelasan tentang masalah, kejadian, atau situasi tertentu, kemudian peserta/peserta ditugasi mencari alternatif pemecahannya</p>
<p><strong>a).Kelebihan metode kasus</strong></p>
<p>Siwa dapat mengetahuai dengan pengamatan yang sempurna tentang gambaran yang nyata yang betul-betul terjadi dalam hidupnya sehingga mereka dapat mempelajari dengan penuh perhatian dan lebih terperinci persoalannya</p>
<p>Dengan mengamati, memikirkan, dan bertindak dalam mengatasi situasi tertentu mereka lebih meyakini apa yang diamati dan menemukan banyak cara untuk pengamatan dan pencarian jalan keluar itu</p>
<p>Peserta mendapat pengetahuan dasar atau sebab-sebab yang melandasi kasus tersebut</p>
<p>Membantu peserta dalam mengembangkan intelektual dan ketrampilan berkomunikasi secara lisan maupun tulisan</p>
<p><strong>b).Kelemahan metode kasus</strong></p>
<p>Pembimbing memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkan bahan kasus yang ditemui dan petunjuk cara pemecahannya yang diperlukan peserta</p>
<p>Banyak waktu yang digunakan untuk diskusi</p>
<p>Untuk kegiatan kelompok membutuhkan fasilitas fisik yang lebih banyak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SIMPOSIUM</strong></p>
<p>Simposium adalah serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan seorang pemimpin. Simposium menampilkan beberapa orang pembicara dan mereka mengemukakan aspek-aspek pandangan yang berbeda dan topik yang sama.</p>
<p><strong>CIRI2 : </strong></p>
<p>-       Pembicara dalam simposium terdiri dari pembicara (pembahas utama) dan penyanggah (pemrasaran banding), dibawah pimpinan seorang moderator.</p>
<p>-       Pendengar diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau pendapat setelah pembahas utama dan penyanggah selesai berbicara.</p>
<p>-       Moderator hanya mengkoordinasikan jalannya pembicaraan dan meneruskan pertanyaan-pertanyaan, sanggahan atau pandangan umum dari peserta.</p>
<p>-       Hasil simposium dapat disebar luaskan, terutama dari pembahas utama dan penyanggah, sedangkan pandangan-pandangan umum yang dianggap perlu saja.</p>
<p>-       dapat digunakan :</p>
<ul>
<li>Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu.</li>
<li>Jika kelompok peserta besar.</li>
<li>Kalau kelompok membutuhkan keterampilan yang ringkas.</li>
<li>Jika ada pembicara yang memenuhi syarat (ahli dalam bidang yang disoroti).</li>
</ul>
<p><strong> Kelebihan :</strong></p>
<ul>
<li>Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil.</li>
<li>Dapat mengemukakan informnasi banyak dalam waktu singkat.</li>
<li>Pergantian pembicara menambah variasi dan sorotan dari berbagai segi akan menjadi sidang lebih menarik.</li>
<li>Dapat direncanakan jauh sebelumnya.</li>
</ul>
<p><strong>Kelemahan :</strong></p>
<ul>
<li>Kurang spontanitas dan kneatifitas karena pembahas maupun penyanggah sudah ditentukan.</li>
<li>Kurang interaksi kelompok.</li>
<li>Menekankan pokok pembicaraan.</li>
<li>Agak terasa formal.</li>
<li>Kepribadian pembicara dapat menekankan materi.</li>
<li>Sulit mengadakan kontnol waktu.</li>
<li>Secara umum membatasi pendapat pembicara.</li>
<li>Membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat.</li>
<li>Cenderung dipakai secara berlebihan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Referensi</p>
<p><a href="http://belajar-ajaran.blogspot.com/2010/04/1-diskusi-kelompok.html">http://belajar-ajaran.blogspot.com/2010/04/1-diskusi-kelompok.html</a></p>
<p><a href="http://muhfida.com/kumpulan-metode-pembelajaranpendampingan/">http://muhfida.com/kumpulan-metode-pembelajaranpendampingan/</a></p>
<p><a href="http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_b13.html">http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_b13.html</a></p>
<p>http://bp3kpkerinci.blogspot.com/&#8230;/<strong>metode</strong>-<strong>penyuluhan</strong></p>
<p><a href="http://www.slideshare.net/.../teknik-penyuluhan">www.slideshare.net/&#8230;/teknik-<strong>penyuluhan</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=289&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/metode-metode-dalam-penyuluhan-kesehatan-masyarakat-pkm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Statistik Parametris dan Non Parametris</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/statistik-parametris-dan-non-parametris/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/statistik-parametris-dan-non-parametris/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Ini dia rumus2 Statistik Parametris-nONParametris<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=286&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<dl>
<dt>Ini dia rumus2 <a href="http://sangayuudara.files.wordpress.com/2011/10/statistik-parametris-non.pdf">Statistik Parametris-nONParametris</a></dt>
</dl>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=286&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/23/statistik-parametris-dan-non-parametris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaitan Kunci antara Perilaku dan Lingkungan dalam Kasus DHF, HIV/AIDS, Kekerasan Remaja, dan Obesitas</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/kaitan-kunci-antara-perilaku-dan-lingkungan-dalam-kasus-dhf-hivaids-kekerasan-remaja-dan-obesitas/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/kaitan-kunci-antara-perilaku-dan-lingkungan-dalam-kasus-dhf-hivaids-kekerasan-remaja-dan-obesitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 16:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[1. Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah kegemukan? Jawab : Lingkungan penyebab kegemukan diantaranya - Racun dari lingkungan seperti polusi dapat mengganggu aktivitas hormon yang memengaruhi pertumbuhan, sehingga dapat menyebabkan kegemukan - Pemanas dan Pendingin Ruangan menyebabkan hanya sedikit kalori dari tubuh yang digunakan untuk mengatur suhu tubuhnya sendiri - [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=282&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah kegemukan?<br />
Jawab :<br />
Lingkungan penyebab kegemukan diantaranya<br />
- Racun dari lingkungan seperti polusi dapat mengganggu aktivitas hormon yang memengaruhi pertumbuhan, sehingga dapat menyebabkan kegemukan<span id="more-282"></span><br />
- Pemanas dan Pendingin Ruangan menyebabkan hanya sedikit kalori dari tubuh yang digunakan untuk mengatur suhu tubuhnya sendiri<br />
- Perubahan Lingkungan Sosial. Seiring dengan pergeseran lingkungan sosial dan gaya hidup, kelompok dengan risiko tinggi terkena obesitas pun meningkat.<br />
- Faktor Genetik. Obesitas yang disebabkan oleh lingkungan pada generasi sebelumnya dapat tertanam di dalam gen generasi tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sesudahnya.<br />
- Pasangan dengan Tipe Badan yang Sama. Pasangan yang memiliki tipe tubuh mirip dengan pasangannya, yaitu sama-sama gemuk, berisiko menurunkan gen keturunan yang menyebabkan obesitas pada anaknya.<br />
- Faktor Kesuburan. Wanita yang badannya berisi lebih subur daripada wanita yang badannya kurus. Artinya, keturunan mereka mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mewarisi gen yang menyebabkan obesitas.<br />
Perilaku penyebab kegemukan diantaranya<br />
- Menonton TV atau main game minimal 3 – 4 jam sebanyak 2-3 kali sehari.<br />
- Jarang melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan bersih-bersih beberapa kali per minggu atau perbulan<br />
- Jarang jalan kaki per minggu<br />
- Jarang melakukan olah raga sedang<br />
- Minum “jus buah” instan<br />
- Makan goreng-gorengan setiap hari<br />
- Minum soft drink setiap hari mempunyai pengaruh dalam meningkatkan peluang gemuk terutama pada kelompok umur 25 – 40 tahun<br />
- Mengonsumsi western fast food lebih dari sekali per minggu<br />
- Mengonsumsi permen dan kripik kentang seminggu lebih dari sekali<br />
- Mengonsumsi mie instan seminggu lebih dari sekali bagi anak laki-laki meningkatkan peluang gemuk hingga 2 kali lebih besar<br />
- Kurangnya waktu tidur yang dapat meningkatkan rasa lapar dan nafsu makan<br />
- Penelitian menunjukkan bahwa berat badan perokok lebih ringan dibandingkan dengan yang tidak merokok. Perokok yang menghentikan kebiasaannya itu cenderung meningkat berat badannya. Namun, merokok bukan cara untuk mengurangi berat badan.<br />
- Efek Samping Obat. Semua jenis obat yang biasa dikonsumsi seperti obat antidepresi, kontrasepsi, tekanan darah tinggi, dan diabetes dalam beberapa kasus dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang sangat drastis.<br />
- Hamil Pada Usia Tua. Ibu yang hamil di usia tua, lebih cenderung untuk memiliki anak dengan kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan dengan ibu yang hamil di usia muda.<br />
Yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku penyebab kegemukan adalah terletak pada gaya hidup (life style). Lingkungan yang mempunyai gaya hidup serba instan dan diikuti dengan perilaku yang instan, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan yang diabaikan, tidak bisa dihindari lagi, kegemukan akan menjadi masalah orang tersebut.</p>
<p>2. Faktor-faktor apa yang mungkin mempengaruhi remaja dalam tindak kekerasan?<br />
Jawab :<br />
- Menurut sosiolog Kartono, faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi remaja dalam tindak kekerasan antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik. Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.<br />
- Faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan<br />
Alvarado :<br />
1. Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial<br />
2. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.<br />
3. Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah<br />
ataupun di luar sekolah, dan lainnya).<br />
4. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.<br />
5. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.<br />
6. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.<br />
7. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.<br />
8. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.<br />
9. Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau<br />
lingkungan baru.<br />
10. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau<br />
melakukan kenakalan remaja.<br />
Faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang ketat juga membuat remaja menjadi semakin rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.<br />
3. Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah demam berdarah?<br />
Jawab :<br />
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga.<br />
Lingkungan penyebab penyakit demam berdarah diantaranya<br />
- Pengelolaan sampah padat yang kurang baik<br />
- Bak mandi/penampungan air, vas bunga dan tempat minum burung yang kurang mendapat perhatian atau jarang dikuras<br />
- Tumpukan kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah yang tidak terurus<br />
- Daerah dengan tingkat kelembapan yang sedang/cocok untuk berkembangnya nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus<br />
Perilaku penyebab demam berdarah diantaranya<br />
- Tidak memakai kelambu di tempat tidur<br />
- Membiarkan sampah lembap berserakan<br />
- Menguras bak mandi dalam jangka waktu yang lama<br />
- Membiarkan tempat penampungan air dalam keadaan terbuka<br />
- Kurang menjaga kebersihan rumah<br />
Jadi, kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah demam berdarah adalah apabila masyarakat yang berperilaku sembarangan terhadap lingkungannya dan membiarkan lingkungannya tersebut di jadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus, maka DHF akan mudah untuk menyebar.<br />
4. Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah HIV/AIDS?<br />
Jawab :<br />
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.<br />
Lingkungan penyebab HIV/AIDS diantaranya<br />
- Kemiskinan dan kemelaratan yang menyebabkan pelacuran dan penggunaan narkoba di seluruh dunia. Kemiskinan memaksa jutaan perempuan muda turun ke kota-kota besar menjadi pekerja seks komersial.<br />
- Lingkungan yang kurang mengetahui tentang kesehatan, misalnya para ibu di negara miskin. Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%.<br />
Perilaku penyebab HIV/AIDS diantaranya<br />
- Penggunaan narkoba dan sejenisnya dengan memakai jarum suntik non steril secara bergantian<br />
- Tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis yang berbeda-beda<br />
- Faktor ibu dengan HIV/AIDS yang menyusui anaknya<br />
- Penggunaan jarum tindik, jarum tatto, tranfusi darah yang tidak steril<br />
Kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah HIV/AIDS adalah kemiskinan serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan perlindungan diri adalah hal yang paling berpotensi dalam penyebaran HIV/AIDS. Walaupun ada beberapa ODHA yang memang dari keluarga kaya, namun kemungkinan dirinya tersebut miskin kasih sayang dari keluarga, ataupun memiliki tingkat stres yang sudah diambang batas. Jadi, kemiskinan disini bukan semata-mata hanya miskin dalam bentuk materi, melainkan dalam hal spiritual dan psikologi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=282&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/kaitan-kunci-antara-perilaku-dan-lingkungan-dalam-kasus-dhf-hivaids-kekerasan-remaja-dan-obesitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSEP TEORI TANDA-TANDA VITAL : SUHU</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-teori-tanda-tanda-vital-suhu/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-teori-tanda-tanda-vital-suhu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 16:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[1. Review Anatomi dan Fisiologi a. Perjalanan Sinyal Suhu pada Sistem Saraf Sinyal suhu yang dibawa oleh reseptor pada kulit akan diteruskan ke dalam otak melalui jaras spinotalamikus (mekanismenya hampir sama dengan sensasi nyeri). Ketika sinyal suhu sampai di tingkat medulla spinalis , sinyal akan menjalar dalam traktus Lissauer beberapa segmen di atas atau di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=280&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Review Anatomi dan Fisiologi<br />
a. Perjalanan Sinyal Suhu pada Sistem Saraf<br />
Sinyal suhu yang dibawa oleh reseptor pada kulit akan diteruskan ke dalam otak melalui jaras spinotalamikus (mekanismenya hampir sama dengan sensasi nyeri). Ketika sinyal suhu sampai di tingkat medulla spinalis , sinyal akan menjalar dalam traktus Lissauer beberapa segmen di atas atau di bawah, dan selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II dan III radiks dorsalis.<br />
Setelah mengalami percabangan melalui satu atau lebih neuron dalam <span id="more-280"></span>medulla spinalis, sinyal suhu selanjutnya akan dijalarkan ke serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sisi berlawanan, dan akan berakhir di tingkat reticular batang otak dan komplek ventrobasal thalamus. Beberapa sinyal suhu pada kompleks ventrobasal akan diteruskan ke korteks somatosensorik.<br />
b. Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh<br />
• Kecepatan metabolisme basal<br />
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.<br />
• Rangsangan saraf simpatis<br />
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.</p>
<p>• Hormon pertumbuhan<br />
Hormon pertumbuhan (growth hormone) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.<br />
• Hormon tiroid<br />
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.<br />
• Hormon kelamin<br />
Hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormon progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.<br />
• Demam (peradangan)<br />
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.<br />
• Status gizi<br />
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami malnutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.<br />
• Aktivitas<br />
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot/organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.<br />
• Gangguan organ<br />
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saat terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.<br />
• Lingkungan<br />
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.<br />
Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.</p>
<p>2. Mekanisme Pengaturan Suhu<br />
Tubuh mempunyai dua kompartemen pokok, kulit (yang terdiri dari kulit dan jaringan subkutan) dan bagian inti (terdiri dari organ dalam, saluran cerna, dan otot). Panas disampaikan melalui bagian kulit dan bagian inti, yang memungkinkan kulit menjadi hangat saat inti dingin dan sebaliknya.<br />
Regulasi suhu tubuh merupakan proses dinamis yang terdiri dari empat mekanisme (Phillips dan Skov, 1988) :<br />
- Konduksi : perpindahan panas secara langsung dari tubuh ke objek yang lebih dingin tanpa gerakan (misalnya, dari sel dan kapiler ke kulit dan pakaian)<br />
- Konveksi : perpindahan panas melalui sirkulasi (misalnya, daerah inti hangat ke area perifer dan dari pergerakan udara ke kulit)<br />
- Radiasi : perpindahan panas diantara kulit dan lingkungan.<br />
- Evaporasi : perpindahan panas ketika kulit atau baju basah dan panas hilang dari kulit/baju basah ke lingkungan.<br />
Suhu tubuh sangat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas dan suhu lingkungan, kelembaban tinggi akan mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh. Kepala, wajah, tangan, dan kaki yang terbuka dapat mempengaruhi suhu tubuh, dimana pada daerah vaskuler terjadi konduksi panas dari pembuluh darah ke kulit atau dari kulit ke pembuluh darah.<br />
Produksi panas terjadi di inti, yang dipersarafi oleh rangsangan termoreseptor dari hipotalamus. Suhu inti atau normotermia yakni berkisar antara 36,6o-37,5oC atau 98o-99,5oF (Smelteer dan Bear, 1992).<br />
Suhu tubuh yang normal bervariasi, individu yang sehat dapat ditentukan dengan memantau suhu pada pagi hari dan sebelum tidur dalam jangka waktu 2-4 minggu. Kehilangan panas dan peningkatan panas bervariasi pada individu dan dipengaruhi oleh daerah permukaan tubuh, sifat perifer vasomotor, dan jumlah jaringan subkutan.<br />
Pendinginan pada individu yang hipertermia dan pemanasan pada individu yang hipotermia harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai terjadi terlalu dingin atau terlalu panas. Pada kasus yang akut biasanya pelaksanaan pendinginan atau penghangatan dengan kolaborasi pada dokter.<br />
Menggigil merupakan hal yang fisiologis untuk meningkatkan panas, respon secara fisiologis :<br />
- Peningkatan konsumsi oksigen 2 sampai 5 kali dari normal<br />
- Peningkatan metabolisme 400%-500%<br />
- Peningkatan kerja jantung, produksi CO2, vasokontriksi kutaneus dan akhirnya terjadi produksi asam laktat<br />
a. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :<br />
• Vasodilatasi<br />
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.<br />
• Berkeringat<br />
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37°C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1°C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.<br />
• Penurunan pembentukan panas<br />
Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.<br />
b. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :<br />
• Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh<br />
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.<br />
• Piloereksi<br />
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri. Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.<br />
• Peningkatan pembentukan panas<br />
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.<br />
c. Mekanisme Hilangnya Panas Melalui Kulit<br />
• Radiasi<br />
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 – 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas.<br />
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.<br />
• Konduksi<br />
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.<br />
• Evaporasi<br />
Evaporasi (penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 – 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 – 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.<br />
Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui evaporasi.<br />
Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.<br />
• Usia<br />
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk mencegah hipotermi pada bayi.<br />
3. Macam Gangguan<br />
a. Hipertermia<br />
Adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh lebih dari 37oC (100oF) per oral atau 38,8oC (101oF) per rektal karena peningkatan kerentanan terhadap faktor-faktor eksternal (Diagnosa Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinis, 2000).<br />
b. Hipotermia<br />
Suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko untuk menderita penurunan suhu tubuh di bawah 35,5oC (96oF) per rektal disebabkan oleh peningkatan faktor-faktor eksternal (Diagnosa Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinis, 2000).<br />
Hipotermia diklasifikasikan melalui pengukuran suhu inti:<br />
• Ringan: 33°-36° : merasa dingin, menggigil<br />
• Sedang: 30°-33° : gangguan berjalan, gangguan bicara, perasaan bingung, otot keras<br />
• Berat: 27°-30° : gangguan kesadaran, tidak bisa sembuh tanpa pertolongan<br />
• Sangat berat: c. Demam<br />
Adalah keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal. Demam adalah istilah umum, dan beberapa istilah lain yang sering digunakan adalah pireksia atau febris. Apabila suhu tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40°C), demam disebut hipertermi.<br />
Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik atau pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit.<br />
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 – 10 menit. Interleukin-1 juga menginduksi pembentukan prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip dengan zat ini, yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam.<br />
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase demam, meliputi fase awal, proses, dan fase pemulihan (defesvescence). Tanda-tanda ini muncul sebagai hasil perubahan pada titik tetap dalam mekanisme pengaturan suhu tubuh.<br />
d. Heat Stroke<br />
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heat stroke. Klien yang termasuk beresiko bisa masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme, diabetes atau alkoholik. Yang termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat untuk menurunkan kemampuan tubuh saat mengeluarkan panas (mis. fenotiazin, antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. atlet, pekerja konstruksi dan petani). Tanda dan gejala heat stroke termasuk kebingungan, sangat haus, mual, kram otot, gangguan visual, dan bahkan inkontinensia (keadaan tidak dapat mengendalikan tubuh). Tanda lain yang paling penting adalah kulit yang hangat dan kering.<br />
e. Frostbite<br />
Tangan dan kaki menjadi beku dengan pembekuan kristal es didalam jaringan tubuh, yang bila ringan akan dapat sembuh akan tetapi bisa kronis dengan gejala – gejala sakit, pucat, perubahan warna kulit yang akhirnya timbul gangren yang harus diamputasi.<br />
Frosbite dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya antara lain :<br />
• Penyakit jantung,<br />
• Asma / bronkitis,<br />
• Diabetes.<br />
f. Kulit kering<br />
Cuaca dingin dapat menyebabkan kulit menjadi terasa kering dan keriput, hal ini dapat membuat rasa tidak nyaman dan tidak sedap dipandang, terutama bagi para wanita.<br />
Biasanya kulit kering ini hanya bersifat sementara saja, namun jika kejadiannya sering dan terus menerus, bekas-bekas kulit kering ini akan nampak jelas terlihat berupa keriput dan garis-garis halus pada kulit.<br />
g. Gangguan Syaraf Bell`s Palsy<br />
Bell`s Palsy berhubungan dengan suhu dan udara dingin. Meskipun data pendukung faktor ini masih sangat kurang, data (anamnesis) dari sekian banyak pasien yang mengalami Bell`s Palsy merujuk pada faktor itu. Misalnya, sopir kendaraan yang tiba-tiba merasa mulutnya bergeser atau menceng setelah membuka jendela kaca mobil. Orang yang sering tidur di lantai, pada saat bangun mulutnya langsung menceng. Atau biasanya kalau di daerah “X” orang sering pergi-pergi ke tempat yang lembap seperti ke sumber mata air. Setelah itu, wajah mereka lumpuh dan mereka mengatakan itu karena ditampar hantu. Padahal karena Bell`s Palsy. Dan semua contoh itu berhubungan dengan udara atau suhu yangn dingin.<br />
Bell`s Palsy merupakan gejala klinis dari suatu penyakit mononeuropati (gangguan yang mengenai satu syaraf). Syaraf yang dimaksud adalah Nervus VII (nervus fascialis). Saraf ini juga sering disebut syaraf fascialis. N.VII yang terkena adalah saraf 7 tepi, inti dari N.VII berada di batang otak.<br />
N.VII berfungsi mengatur otot-otot pergerakan organ pada daerah wajah, antara lain di daerah mulut dan gerakan seperti meringis dan bibir maju ke depan. Pada daerah mata, syaraf ini juga mengatur seputar pergerakan kelopak seperti memejam, pergerakan kelopak bola mata, dan mengatur aliran air mata. Serabut N.VII menuju ke arah kelenjar ludah dan juga ke bagian pendengaran.<br />
Pada kasus Bell`s Palsy, saraf ini mengalami gangguan. Saraf tidak dapat mengantar impuls motorik ke otot karena terhambat akibat pembengkakan. Susunan N.VII dari inti di bagian otak hingga ujung saraf sangat panjang. Bell`s Palsy, bila dibandingkan dengan stroke, bisa dikatakan tidak terlalu berbahaya. Malah penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya.</p>
<p>4. Pemeriksaan<br />
Secara umum pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer kaca (glass thermometers). Skala yang sering digunakan adalah termometer skala Celcius (Centigrade) yang mempunyai skala dengan titik beku air 0 derajat Celcius dantitik didih 100 derajat Celcius. Ada pula digital thermometer yang mempunyai kepekaan tinggi dan waktu pemeriksaan hanya beberapa detik , banyak dipakai pada kondisi kegawatan.<br />
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dibeberapa tempat yaitu di mulut (oral), anus (rectal), ketiak (axilla) dan telinga (auricular) . Masing- masing tempat mempunyai variasi suhu yang berlainan. Suhu rektal biasanya berkisar 0.4 C (0.7 F) lebih tinggi dari suhu oral dan suhu aksila lebih rendah 0.6 C (1 F) dari pada oral . Di Puskesmas biasanya yang sering dipergunakan adalah pemeriksaan suhu aksila.<br />
Pengukuran suhu aksila dianggap paling mudah dan aman, namun kurang akurat. Penggunaan sering dilakukan pada : 1. Anak ; 2. Pasien dengan radang mulut ; 3. Pasien yang bernapas dengan mulut atau menggunakan alat bantu napas.<br />
Persiapan pemeriksaan suhu :<br />
1). Persiapan peralatan<br />
1. Termometer<br />
2. Soft tissue atau lap bersih<br />
3. Buku pencatat suhu dan alat tulis<br />
4. Handuk bersih untuk membersihkan keringat pasien<br />
2). Persiapan pasien<br />
1. Jagalah privasi pasien dengan tirai atau pintu tertutup.<br />
2. Jelaskan kepada pasien tentang pentingnya pemeriksaan suhu aksila<br />
3. Lepaskan baju pasien dan bagian lain ditutup dengan selimut.<br />
3). Cara pemeriksaan dengan Termometer Aksila<br />
1. Pegang termometer pada bagian ujung yang tumpul.<br />
2. Bersihkan dengan soft tissue atau cucilah dalam air dingin bila disimpan dalam desinfektan serta bersihkan dengan lap bersih<br />
3. Peganglah ujung termometer yang tumpul dengan ibu jari dan jari kedua, turunkan tingkat air raksa sampai angka 35 derajat celsius.<br />
4. Bukalah lengan pasien.<br />
5. Bersihkan keringat pasien dengan handuk yang kering/ tissue<br />
6. Tempelkan termometer ke ketiak, turunkan lengan dan silangkan lengan bawah pasien keatas dada, sedangkan pada anak pegang tangannya dengan lembut.<br />
7. Biarkan selama 5-10 menit untuk hasil yang baik.<br />
8. Angkat termometer dan bersihkan dengan soft tissue/ lap bersih dengan gerak rotasi.<br />
9. Bacalah tingkat air raksa sejajar dengan mata pemeriksa.<br />
10. Turunkan tingkat air raksa &lt; 35,50C.<br />
11. Kembalikan termometer ke tempat penyimpanan.<br />
12. Cuci tangan.<br />
Informasikan ke pasien dan catat hasil pemeriksaan pada buku.<br />
4). Cara Pemeriksaan dengan Termometer Oral<br />
1. Jelaskan prosedur kepada klien<br />
2. Cuci tangan<br />
3. Gunakan sarung tangan<br />
4. Atur posisi pasien<br />
5. Tentukan letak bawah lidah<br />
6. Turunkan suhu termometer dibawah anatara 340C – 350C.<br />
7. Letakkan termometer dibawah lidah sejajar dengan gusi<br />
8. Anjurkan mulut dikatupkan selama 3 – 5 menit<br />
9. Angkat termometer dan baca hasilnya<br />
10. Catat hasil<br />
11. Bersihkan termometer dengan kertas / tissue<br />
12. Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.<br />
13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.<br />
5). Cara Pemeriksaan dengan Termometer Rektal<br />
1. Jelaskan prosedur kepada klien<br />
2. Cuci tangan<br />
3. Gunakan sarung tangan<br />
4. Atur posisi pasien dengan posisi miring<br />
5. Pakaian diturunkan sampai di bawah glutea (di bawah pantat)<br />
6. Tentukan letak rektal, lalu oleskan vaseline<br />
7. Turunkan suhu termometer dibawah anatara 340C – 350C.<br />
8. Letakkan telapak tangan pada sisi glutea pasien, masukkan termometer kedalam rektal dengan perlahan, jangan sampai berubah posisi, dan ukur suhu<br />
9. Setelah 3-5 menit, angkat termometer dan baca hasilnya<br />
10. Catat hasil<br />
11. Bersihkan termometer dengan kertas / tissue<br />
12. Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.<br />
13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=280&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-teori-tanda-tanda-vital-suhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSEP STRESS DAN ADAPTASI</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-stress-dan-adaptasi/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-stress-dan-adaptasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 16:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[BAB II PEMBAHASAN   2.1  Konsep Stress dalam Kehidupan Manusia 1.      Definisi Stress Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non specific mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976). Lazarus dan Folkman (1994) mendefinsikan stress psikologis sebagai hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dihargai oleh orang lain tersebut sebagai pajak terhadap sumber [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=278&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1  </strong><strong>Konsep Stress dalam Kehidupan Manusia</strong></p>
<p><strong></strong><strong>1.      </strong><strong>Definisi Stress</strong></p>
<p>Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non specific mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976). Lazarus dan Folkman (1994) mendefinsikan stress psikologis sebagai hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dihargai oleh orang lain tersebut sebagai pajak terhadap sumber dayanya <span id="more-278"></span>dan membahayakan kemapanannya. Stress dianggap sebagai faktor predisposisi atau pencetus yang meningkatkan kepekaaan individu terhadap penyakit (Rahe, 1975).</p>
<ol>
<li>Menurut Hans Selye, “Stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdiknakes, Dep.Kes.RI,1989).</li>
<li>Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” (Dadang Hawari, 2001).</li>
<li>Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang” (Soeharto Heerdjan, 1987).</li>
<li>Secara umum, yang dimaksud “Stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”.</li>
<li>“Stress adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita” (Maramis, 1999).</li>
<li>Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) bahwa yang dimaksud “Stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut”.</li>
</ol>
<p>Stressor adalah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan , perkembangan dan kebutuhan cultural.</p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Pendekatan-pendekatan Stress</strong></p>
<p>Menurut Sarafino<strong> </strong>(1990), Sutherland dan Cooper (1990) stress dapat dikonseptualisasikan dari berbagai macam titik atau pandang :<strong></strong></p>
<ol>
<li>Stress sebagai ‘stimulus’ aalah pendekatan yang menitikberatkan pada lingkungan dan menggambarkan stress sebagai suatu stimulus (atau stress sebagai ‘variabel bebas’). Pendekatan seperti ini biasanya digunakan individu ketika dia berbicara tentang stress dalam kehidupan sehari-hari, seperti : “Banyak stress di tempat kerja”.<strong></strong></li>
<li>Stress sebagai ‘respon’ adalah pendekatan yang memfokuskan pada reaksi seseorang terhadap stressor dan menggambarkan stress sebagai suatu respon (atau stress sebagai ‘variabel tergantung’). Respon yang dialami itu mengandung dua komponen, yaitu : komponen psikologis, yang meliputi prilaku, pola pikir, emosi, dan perasaan stress; dan komponen fisiologis, berupa rangsangan-rangsangan fisik yang meningkat. Stress sebagai suatu respon ini juga dikenal dalam ilmu medis dan sering dipandang sebagai perspektif fisiologis. Konsep <em>‘General Adaptation Syndrome’</em> dari Selye dan ‘fight or flight reaction’ dari Cannon.<strong></strong></li>
<li>Stress sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan, adalah pendekatan yang menggambarkan stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional (Van Broeck, 1979; Sutherland dan Cooper, 1990; Sarafino, 1990). Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian.<strong></strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Penyebab Stress</strong></p>
<p>Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress Psikologis, yaitu :<strong></strong></p>
<p><strong>a.    </strong><strong>Frustasi<br />
</strong>Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).</p>
<p><strong>b.   </strong><strong>Konflik<br />
</strong>Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, avoidance -avoidance conflict.</p>
<p><strong>c.    </strong><strong>Tekanan<br />
</strong>Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu.</p>
<p><strong>d.   </strong><strong>Krisis<br />
</strong>Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera operasi. Keadaan stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik dan tekanan.</p>
<p><strong>4.      </strong><strong>Macam-macam Tingkat Stress</strong></p>
<p>Penggolongan Stress apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), dapat digolongkan sebagai berikut :<strong></strong></p>
<p><strong>a.    </strong><strong>Stress fisik</strong>, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.</p>
<p><strong>b.   </strong><strong>Stress kimiawi</strong>, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone, atau gas.</p>
<p><strong>c.    </strong><strong>Stress mikrobiologik</strong>, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan penyakit.</p>
<p><strong>d.   </strong><strong>Stress fisiologik</strong>, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.</p>
<p><strong>e.    </strong><strong>Stress proses</strong> pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.</p>
<p><strong>f.     </strong><strong>Stress psikis/ emosional</strong>, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya, atau keagamaan.</p>
<p>Adapun menurut Grant Brecht (2000), stress ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :</p>
<ul>
<li>Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian, pension, luka batin, dan kebangkrutan.</li>
<li>Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri.</li>
</ul>
<p>Reaksi Psikologis terhadap stress diantaranya :</p>
<ul>
<li>Kecemasan,<strong> </strong>Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan Adalah emosi yang tidak menyenangkan dengan istilah “kuatir,” “tegang,” “prihatin,” “takut”fisik à jantung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur.</li>
<li>Kemarahan dan agresi, Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha membunuh orang.</li>
<li>Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai rasa sedih.</li>
</ul>
<p><strong>5.      </strong><strong>Tahapan-tahapan Stress</strong></p>
<p>Gejala-gejala stress pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat. Dan, baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Van amberg (1979) dalam penelitiannya membagi tahapan-tahapan stress sebagaimana berikut :</p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Stress Tahap I</strong></p>
<p>Tahapan ini merupakan tahapan stress paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :<strong></strong></p>
<p>-       Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting).</p>
<p>-       Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya.</p>
<p>-       Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; Namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang berlebihan pula.</p>
<p>-       Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat, Namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Stress Tahap II</strong></p>
<p>Dalam tahapan ini dampak stress yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas Mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat antara lain dengan tidur yang cukup bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami deficit. Analogi dengan hal ini adalah misalnya handphone (HP) yang sudah lemah harus kembali diisi ulang (di-charge) agar dapat digunakan lagi dengan baik. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stress tahap II adalah sebagai berikut :</p>
<p>-       Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar.</p>
<p>-       Merasa mudah lelah sesudah makan siang.</p>
<p>-       Lekas merasa capai menjelang sore hari.</p>
<p>-       Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort).</p>
<p>-       Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar).</p>
<p>-       Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.</p>
<p>-       Tidak bisa santai</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>Stress Tahap III</strong></p>
<p>Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stress tahap II tersebut di atas, maka yang bersangkutan akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu :</p>
<p>-       Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag” (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare).</p>
<p>-       Ketegangan otot semakin terasa.</p>
<p>-       Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat.</p>
<p>-       Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk Mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/ dini hari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).</p>
<p>-       Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stress hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.</p>
<p><strong>d.      </strong><strong>Stress Tahap IV</strong></p>
<p>Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri ke dokter sehubungan dengan keluhan-keluhan stress tahap III di atas, oleh dokter dinyatakan tidak sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Bila hal ini terjadi dan yang bersangkutan terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stress tahap IV akan muncul :</p>
<p>-       Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit.</p>
<p>-       Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.</p>
<p>-       Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate).</p>
<p>-       Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari.</p>
<p>-       Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan.</p>
<p>-       Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan.</p>
<p>-       Daya konsentrasi dan daya ingat menurun.</p>
<p>-       Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.</p>
<p><strong>e.       </strong><strong>Stress Tahap V</strong></p>
<p>Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stress tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut :</p>
<p>-       Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and psychological exhaustion).</p>
<p>-       Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana.</p>
<p>-       Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder).</p>
<p>-       Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.</p>
<p><strong>f.       </strong><strong>Stress Tahap VI</strong></p>
<p>Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stress tahap VI ini berulang-kali dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stress tahap VI ini adalah sebagai berikut :</p>
<p>-       Debaran jantung teramat keras.</p>
<p>-       Susah bernafas (sesak dan mengap-mengap).</p>
<p>-       Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran.</p>
<p>-       Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan.</p>
<p>-       Pingsan atau kolaps (collapse)</p>
<p>Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stressor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.</p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Faktor Yang Mempengaruhi Respon Terhadap Stressor</strong></p>
<p><strong>a.      </strong><strong> Intensitas</strong></p>
<p>Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada dasarnya tubuh atau jiwa manusia mempunyai ketahanan atau kekuatan yang berasal dari dalam. Tingkat kekuatan ini dinilai sebagai kunci kepribadian dalam menghadapi stress. Kepribadian ini memungkinkan seseorang untuk menjadikan stressor sebagai suatu yang positif sehingga memberikan respon yang positif pula terhadap stressor tertentu. Suatu stressor yang bersifat negatif dan menjadikan stress bagi seseorang dapat merupakan sumber kekuatan bagi orang lain. Selain itu stressor juga dapat memberikan mekanisme untuk memperingatkan seseorang agar dapat menmgumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya dalam rangka melawean stress itu sendiri. Tak selamanya stress merupakan hal yang negatif. Pada tingkatan tertentu stress dapat menjadi motivator bagi seseorang. Hal ini berhubungan dengan keinginan untuk mencap[ai suatu tujuan dan stress disini berguna untuk mencegah timbulnya rasa bosan. Stress juga berguna pada keadaan yang penting dimana seseorang memerlukan kekuatan emosional dan mobilisasi fisik sebagai kekuatan pertahanan individu.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Sifat</strong></p>
<p>Sifat dari stressor juga memperngaruhi respon. Ada beberapa stressor yang bersifat positif dan yang lainnya bersifat negatif. Stressor yang bersifat positif akan menimbulkan respon yang positif, sedangkan stressor yang bersifat negatif akan menyebabkan respon yang negatif pula baik secara fisikmaupun psikis. Secara negatif stress dapat menghasilkan perubahan yang pada akhirnya akan menimbulkan kesakitan.</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>Durasi</strong></p>
<p>Lamanya atau jangka waktu berlangsungnya pemaparan stressor atau kejasian dari stressor sampai menjadikan seseorang mengalami stress. Frekwensi perubahan-perubahan dari suatu kejadian yang pada akhirnya mempengaruhi seseorang hingga merasakan stress.</p>
<p><strong>d.      </strong><strong>Jumlah</strong></p>
<p>Mengandung pengertian stressor yang harus dihadapi dalam satu waktu. Banyaknya perubahan-perubahan dan kejadian yang dialami seseorang dalam suatu periode waktu tertentu lebih sering menyebabkan perkembangannya stress yang pada akhirnya dapat menyebabkan kesakitan.</p>
<p><strong>e.       </strong><strong>Pengalaman</strong></p>
<p>Bagaimana seseorang memberikan respon terhadap stressor juga dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman ini bisa di dapat dari diri sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang ditemui dalam kehidupan akan memberikan pelajaran dan kekuatan untuk menghadapi stressor dan menghadapi stress.</p>
<p><strong>f.       </strong><strong>Tingkat Perkembangan</strong></p>
<p>Di dalam setiap perkembangan akan terjadi perubahan-perubahan pada setiap individu. Tingkat perkembangan ini juga berpengaruh terhadap bagaimana seseorang maupun stressor. Karena perkembangan cukup menentukan kematangan seseorang dalam menghadapi kematangan.</p>
<p><strong>7.      </strong><strong>Respon Patofisiologi Terhadap Stress</strong></p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Komponen Fisiologi</strong></p>
<p>Riset klasik yang telah dilakukan oleh Selye (1946, 1976) telah mengidentifikasi dua respons fisiologis terhadap stress; sindrom adaptasi lokal (LAS) dan sindrom adaptasi umum (GAS). LAS adalah respon dari jaringan, organ atau bagian tubuh terhadap stress karena trauma, penyakit atau perubahan fisiologis lainnya. GAS adalah respons pertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stress.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>LAS (Lokal Adaptation Syndrome)</strong></p>
<p>Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respons setempat ini termasuk pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya dan respon tekanan. Semua bentuk LAS mempunyai karakteristik berikut :<strong></strong></p>
<p>1)   Respon yang terjadi adalah setempat, respon ini tidak melibatkan seluruh sistem tubuh</p>
<p>2)   Respon adalah adaptif, berarti bahwa stressor diperlukan untuk menstimulasinya.</p>
<p>3)   Respon adalah berjangka pendek. Respon tidak terdapat terus menerus.</p>
<p>4)   Respon adalah restorative, berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan homeostasis region atau bagian tubuh.</p>
<p>Dua respon setempat , yaitu respons refleks nyeri dan respons inflamasi adalah contoh dari LAS. Perawat menghadapi respons ini dibanyak lingkungan perawatan kesehatan.</p>
<p><strong>1)   </strong><strong>Respon refleks nyeri</strong></p>
<p>Respon refleks nyeri adalah respon setempat dari sistem saraf pusat terhadap nyeri. Respon ini adalah respons adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih lanjut. Respons ini melibatkan reseptor sensoris, saraf sensoris yang menjalar ke medulla spinalis, neuron penghubung dalam medulla spinalis, saraf motorik yang menjalar dari medulla spinalis dan otot efektif. Misalnya , sebut saja di bawah sadar, yaitu refleks menghindarkan tangan dari permukaan panas. Contoh lainnya adalah kram otot.</p>
<p><strong>2)   </strong><strong>Respons inflamasi</strong></p>
<p>Respons inflamasi distimuli oleh trauma atau infeksi. Respons ini memusatkan inflamasi , sehingga dengan demikian menghambat penyebaran inflamasi dan meningkatkan penyembuhan. Respons inflamasi dapat mengakibatkan nyeri setempat, pembengkakan, panas, kemerahan dan perubahan fungsi.Respons inflamasi terbagi dalam tiga fase yaitu perubahan dalam sel-sel dan sistem sirkulasi, pelepasan eksudat dari luka dan perbaikan jaringan oleh regenerasi atau pembentukan jaringan parut.</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>GAS (General Adaptation Syndrome)</strong></p>
<p>GAS adalah respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respon ini melibatkan beberapa sistem tubuh, terutama sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Beberapa buku menyebutkan GAS sebagai respon neuro-endokrin. GAS terdiri atas reaksi peringatan , tahap resisten dan tahap kehabisan tenaga. GAS diuraikan dalam tiga tahapan berikut :</p>
<p><strong>1)      </strong><strong>Alarm reaction  (AR, reaksi cemas).</strong></p>
<p>Selama tahap ini tubuh menyadari penyebab ketegangan dan secara sadar atau tidak sadar dipicu untuk bertindak. Kekuatan pertahanan tubuh dikerahkan dan tingkat yang normal dari perlawanan tubuh menurun. Kalau penyebab ketegangan itu cukup keras, tahap ini dapat mengakibatkan kematian. Contohnya adalah luka bakar yang hebat. Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Kadar hormon meningkat untuk meningkatkan volume darah dan dengan demikian menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepaskan untuk meningkatkan kadar glukosa darah untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi. Meningkatkan kadar hormon lain seperti efinefrin dan norefinefrin mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, meningkatkan aliran darah ke otot, meningkatkan ambilan oksigen dan memperbesar kewaspadaan mental. Aktivitas hormonal yang luasini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Curah jantung, ambilan oksigen dan frekwensi pernapsan meningkat, pupil mata berdilatasi untuk menghasilkan bidang visual yang lebih besar, dan frekwensi jantung meningkat untuk menghasilkan energi lebih banyak. Dengan peningkatan kewaspadaan dan energi mental ini, seseorang disipkan untuk melawan atau menghindari stressor.</p>
<p><strong>2)      </strong><strong>State of Resistance (SR, Perlawanan)</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p>Tahap ini ditandai oleh penyesuaian dengan penyebab ketegangan. Tubuh melawan reaksi cemas, karena dalam keadaan ini tidak ada orang yang terus menerus dapat bertahan. Tingkat perlawanan tubuh naik di atas normal untuk melawan penyebab ketegangan dengan harapan adanya penyesuaian. Disamping itu perlawanan tubuh terhadap rangsangan selanjutnya meningkat. Jika stress dapat diatasi, tubuh akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. namun demikian, jika stressor tetap terus menetap, seperti pada kehilangan darah terus menerus, penyakit yang melumpuhkan, penyakit mental parah jangka panjang, dan ketidakberhasilan dalam beradaptasi, maka individu memasuki tahap ketiga dari GAS yaitu tahap kehabisan tenaga.</p>
<p><strong>3)      </strong><strong>State of Exhausting (SE, tahap keadaan sangat lelah/ kehabisan tenaga)</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p>Kalau tubuh terus menerus dibiarkan menerima penyebab ketegangan, suatu waktu akan mencapai tahap lelah. Gejala-gejala reaksia cemas ini timbul kembali, tetapi kalau penyebab ketegangan tidak disingkirkan, tanda-tanda itu tidak dapat dirubah lagi. Maut akan menyusul, kecuali tubuh memperoleh tehnik untuk menyesuaikan diri atau menemukan jalan baru untuk menguasai situasi yang pebuh ketegangan.</p>
<p><strong>8.      </strong><strong>Kiat Mengatasi Stress</strong></p>
<p>Kiat untuk mengendalikan stress menurut Grant Brecht (2000) sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Sikap, keyakinan dan pikiran kita harus positif, fleksibel, Rasional, dan adaptif terhadap orang lain. Artinya, jangan terlebih Dahulu menyalahkan orang lain sebelum introspeksi diri dengan pengendalian internal.</li>
<li>Kendalikan faktor-faktor penyebab stress dengan jalan :</li>
</ol>
<p>-       Kemampuan menyadari (awareness skills).</p>
<p>-       Kemampuan untuk menerima (acceptance skills).</p>
<p>-       Kemampuan untuk menghadapi (coping skills).</p>
<p>-       Kemampuan untuk bertindak (action skills).</p>
<ol>
<li>Perhatikan diri anda, proses interpersonal dan interaktif, serta lingkungan anda.</li>
<li>Kembangkan sikap efisien.</li>
<li>Relaksasi.</li>
<li>Visualisasi (angan-angan terarah). Teknik singkat untuk menghilangkan stress, misalnya melakukan pernafasan dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat, membaca, kecanduan positif (melakukan yang disukai secara teratur), istirahat teratur dan ngobrol.</li>
</ol>
<p><strong>2.2  </strong><strong>Konsep Adaptasi dalam Kehidupan Manusia</strong></p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Konsep Adaptasi</strong></p>
<p>Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain :<strong></strong></p>
<ol>
<li>W.A. Gerungan (1996) menyebutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri). Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis).</li>
<li>Menurut Soeharto Heerdjan (1987),  penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengawasi kesulitan dan hambatan.</li>
</ol>
<p>Adaptasi merupakan pertahanan yang didapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stress. Cara mengatasi stress dapat berupa membatasi tempat terjadinya stress, mengurangi, atau menetralisasi pengaruhnya.</p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Model-model Adaptasi</strong></p>
<p>Setiap orang secara terus menerus akan menghadapi perubahan fisik, psikis, dan sosial baik dari dalam maupun dari lingkungan luar. Jika hal tersebut tidak dapat dihadapi dengan seimbang maka tingkat stress akan meningkat. Model adaptasi menunjukkan bahwa empat faktor menentukan apakah suatu situasi adalah menegangkan (Mechanic, 1962). Empat faktor yang mempengaruhi Kemampuan untuk menghadapi stress itu adalah :</p>
<p>-       Biasanya tergantung pada pengalaman seseorang dengan stressor serupa, sistem dukungan, dan persepsi keseluruhan trehadap stressor.</p>
<p>-       Berkenaan dengan prktik dan norma kelompok sebaya individu.</p>
<p>-       Dampak dari lingkungan sosial dalam membantu seorang individu untuk beradaptasi terhadap stressor.</p>
<p>-       Sumber yang dapat digunakan untuk mengatasi stressor.</p>
<p><strong>a.         </strong><strong>Adaptasi Fisiologis/Biologis</strong></p>
<p>Pada dasarnya disetiap tubuh manusia telah terdapat mekanisme pertahanan yang bersifat alami dan bekerja secara teratur sehingga memungkinkan tubuh untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang berasal dari faktor internal. Mekanisme ini bekerja dengan sendirinya dan akan berubah menjadi suatu aksi tanpa didasari dan biasanya berfungsi dalam kondisi yang tidak normal.</p>
<p>Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang mengalami stress, dan indicator tersebut bervariasi menurut individunya. Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak mampu untuk beristirahat aberkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul sepanjang tahap stress. Durasi dan intensitas dari gejala secara langsung berkaitan dengan durasi dan intensitas stressor yang diterima. Indikator fisiologis timbul dari berbagai sistem. Oleh karenanya pengkajian tentang stress mencakup pengumpulan data dari semua sistem. Hubungan antara stress psikologik dan penyakit sering disebut interaksi pikiran tubuh. Riset telah menunjukkan bahwa stress dapat mempengaruhi penyakit dan pola penyakit. Pada masa lampau,penyakit infeksi adalah penyebab kematian paling utama, tetapi sejak ditemukan antibiotic, kondisi kehidupan yang meningkat, pengetahuan tentang nutrisi yang meningkat, dan metode sanitasi yang lebih baik telah menurunkan angka kematian. Sekarang penyebab utama kematian adalah penyakit yang mencakup stressor gaya hidup. Indikator fisiologis stress :</p>
<ul>
<li>Kenaikan tekanan darah</li>
<li>Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung.</li>
<li>Peningkatan denyut nadi dan frekwensi pernapasan</li>
<li>Telapak tangan berkeringat</li>
<li>Tangan dan kaki dingin</li>
<li>Postur tubuh yang tidak tegap</li>
<li>Keletihan</li>
<li>Sakit kepala</li>
<li>Gangguan lambung</li>
<li>Suara yang bernada tinggi</li>
<li>Mual, muntah, dan diare.</li>
<li>Perubahan nafsu makan</li>
<li>Perubahan berat badan</li>
<li>Perubahan frekwensi berkemih</li>
<li>Dilatasi pupil</li>
<li>Gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur</li>
<li>Temuan hasil laboratorium abnormal : Peningkatan kadar hormon adrenokortikotropik, kortisol dan katekolamin dan hiperglikemia.</li>
</ul>
<p><strong>b.        </strong><strong>Adaptasi Psikologis</strong></p>
<p>Seseorang yang menghadapi stress akan mengalami kondisi-kondisi yang tidak mengenakkan secara psikis seperti timbulnya rasa cemas, frustasi, terancam, tak tentram yang semuanya itu berdampak pada munculnya suatu kontak konflik dalam jiwa mereka. dan konflik tersebut diekspresikan dalam bentuk kemarahan atau ekspresi-ekspresi lain yang dapat membuat orang tersebut merasa sedikit nyaman atau terlepas dari stress yang dihadapinya.</p>
<p>Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993). Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :</p>
<p>• Ansietas</p>
<p>• Depresi</p>
<p>• Kepenatan</p>
<p>• Peningkatan penggunaan bahan kimia</p>
<p>• Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas.</p>
<p>• Kelelahan mental</p>
<p>• Perasaan tidak adekuat</p>
<p>• Kehilangan harga diri</p>
<p>• Peningkatan kepekaan</p>
<p>• Kehilangan motivasi.</p>
<p>• Ledakan emosional dan menangis.</p>
<p>• Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan.</p>
<p>• Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian).</p>
<p>• Mudah lupa dan pikiran buntu</p>
<p>• Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci.</p>
<p>• Preokupasi (mis. mimpi siang hari )</p>
<p>• Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas.</p>
<p>• Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit</p>
<p>• Letargi</p>
<p>• Kehilangan minat</p>
<p>• Rentan terhadap kecelakaan.</p>
<p><strong>c.         </strong><strong>Adaptasi Perkembangan</strong></p>
<p>Stress yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan. Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992).</p>
<p>Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan. Mereka mulai mnyedari bahwa akumulasi pengetahuan dan penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan , dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman.</p>
<p>Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap stressor, tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992).</p>
<p>Dewasa muda berada dalam transisi dari pengalaman masa remaja ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stresor mencakup konflik antara harapan dan realitas.</p>
<p>Usia setengah baya biasanya terlibat dalam membangun keluarga, menciptakan karier yang stabil dan kemungkinan merawat orang tua mereka. Mereka biasanya dapat mengontrol keinginan dan pada beberapa kasus menggantikan kebutuhan pasangan, anak-anak, atau orang tua dari kebutuhan mereka. Namun demikian dapat timbul stress, jika mereka merasa terlalu banyak tanggung jawab yang membebani mereka.</p>
<p>Usia lansia biasanya menghadapi adaptasi terhadap perubahan dalam keluarga dan kemungkinan terhadap kematian dari pasangan atau teman hidup. Usia dewasa tua juga harus menyesuaikan terhadap perubahan penampilan fisik dan fungsi fisiologis. Perubahan besar dalam kehidupan seperti memasuki masa pension juga menegangkan.<strong></strong></p>
<p><strong>d.        </strong><strong>Adaptasi Sosial Budaya</strong></p>
<p>Setiap lingkungan sosial masyarakat mempunyai tatanan budaya masing-masing. Antara lingkungan satu dan yang lainnya tentu memiliki budaya berbeda-beda. Perbedaan tersebut yang akhirnya menuntut setiap orang beradaptasi jika hal itu dapat dilakukan dengan baik maka akan tercipta keseimbangan. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika orang tersebut akan mengalami stress.</p>
<p><strong>e.         </strong><strong>Adaptasi Spiritual</strong></p>
<p>Setiap agama dan kepercayaan mengandung ajaran yang hendaknya harus dijalankan oleh penganutnya. Ajaran-ajaran ini tentunya juga harus turut andil dalammengatur perilaku manusia ini. Oleh karena itu dalam rangka memenuhi ajaran-ajaran tersebut pasti terjadi perubahan dalam perilaku manusia.<strong></strong></p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Lingkungan Sosial Model</strong></p>
<p>Keadaan lingkungan dan masyarakat sangat mempengaruhi seseorang dalam beradaptasi. Keadaan lingkungan yang stabil dan seimbang akan memudahkan seseorang dalam beradaptasi. Sedangkan keadaan masyarakat dengan hubungan sosial yang baik juga akan memudahkan individu dalam melakukan adaptasi agar terhindar dari stress.</p>
<p><strong>4.      </strong><strong>Proses Model</strong></p>
<p>Pada dasarnya proses model adalah berlangsungnya kejadian dan masalah yang terjadi pada seseorang sehingga mempengaruhi orang tersebut yang pada akhirnya mengalami stress dan proses menghadapi stress itu sendiri.<strong></strong></p>
<p><strong>5.      </strong><strong>Homeostasis</strong><strong></strong></p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Pengertian Homeostasis</strong></p>
<p>Homeostasis adalah keadaan yang relatif konstan di dalam lingkungan internal tubuh, dipertahankan secara alami oleh mekanisme adaptasi fisiologis. Adaptasi fisiologis terhadap stress adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan keadaan relatif seimbang. Kemampuan adaptif ini adalah bentuk dinamik dari ekuiliblrium lingkungan internal tubuh. Lingkungan internal secara konstan berubah, dan mekanisme adaptif tubuh secara kontinyu berfungsi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan ini dan untuk mempertahankan ekuilibrium atau homeostasis. Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Untuk sebagian besar mekanisme ini dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar. Tubuh membuat penyesuaian dalam frekwensi jantung, frekwensi pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit, sekresi hormon dan tingkat kesadaran yang semuanya ditujukan untuk mempertahankan adaptasi.</p>
<p>Dubos (1965) mengemukakan pandangan lebih lanjut ke sifat dinamis respons-respons tersebut. Dia mengatakan bahwa ada dua konsep yang saling mengisi : homestasis dan adaptasi. Homeostasis menekankan pada perlunya penyesuaian yang harus segera dilakukan tubuh untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima, sedangkan adaptasi lebih menekankan pada penyesuaian yang berkembang sesuai berjalannya waktu. Dubos juga menekankan bahwa ada batasan respon terhadap stimuli yang dapat diterima dan bahwa respon tersebut bisa berbeda pada setiap individu. Baik homestasis maupun adaptasi dangat diperlukan untuk dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Mekanisme Homeostasis</strong></p>
<p>Ketika seseorang menyadari tentang kebutuhan fisiologis tidak terpenuhi seperti makanan atau kehangatan, tindakan yang akan dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut . Untuk sebagian besar bagaimanapun juga , adaptasi mencakup penyesuaian yang dibuat tubuh secara otomatis untuk mempertahankan ekuilibrium. Mekanisme homeostasis ini adalah pengaturan – mandiri, dengan kata lain, mekanisme ini adalah otomatis. Namun demikian, pada individu yang sakit atau mengalami cedera, mekanisme ini mungkin tidak mampu untuk mempertahankan atau menopang homeostasis.</p>
<p>Mekanisme fisiologis adaptasi berfungsi melalui umpan balik negatif, yaitu duatu proses dimana mekanisme kontrol merasakan suatu keadaan abnormal, seperti penurunan suhu tubuh, dan membuat suatu respon adaptif, seperti mulai menggigil untuk membangkitkan panas tubuh. Ketiga dari mekanisme utama yang digunakan dalam mengadaptasi stressor dikomtrol oleh medulla oblongata, formasi reticular dan kelenjar hipofisis.<strong></strong></p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Mekanisme Pembelaan Ego</strong></p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Identifikasi<br />
</strong>ingin menyamai seorang figur yang diidealkan, dimana salah satu ciri atau segi tertentu dari figure itu ditransfer pada dirinya. Dengan demikian ia merasa harga dirinya bertambah tinggi. Contoh : Teguh, 15 tahun mengubah model rambutnya menirukan artis idolanya yang ia kagumi.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Introjeksi<br />
</strong>Merupakan bentuk sederhana dari identifikasi, dimana nilai-nilai, norma- norma dari luar diikuti atau ditaati, sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar. Contoh : Rasa benci atau kecewa terhadap kematian orang yang dicintai dialihkan dengan cara menyalahkan diri sendiri.</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>Projeksi<br />
</strong>Hal ini berlawanan dengan introjeksi,dimana menyalahkan orang lain atas kelalaian dan kesalahan-kesalahan atau kekurangan diri sendiri, keinginan keinginan, impuls-impuls sendiri. Contoh : Seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayunya.</p>
<p><strong>d.      </strong><strong>Represi</strong></p>
<p>Penyingkiran unsur psikik (sesuatu afek, pemikiran, motif, konflik) sehingga menjadi nirsadar (dilupakan/tidak dapat diingat lagi). Represi membantu individu mengontrol impuls-impuls berbahaya.Contoh :Suatu pengalaman traumatis menjadi terlupakan</p>
<p><strong>e.       </strong><strong>Regresi</strong></p>
<p>Kembali ke tingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang bersifat primitif). Contoh : Seorang anak yang mulai berkelakuan seperti bayi, ketika seorang adiknya dilahirkan. Esvi yang berumur 4 tahun mulai mengompol lagi sejak adiknya yang baru lahir dibawa pulang dari rumah sakit.</p>
<p><strong>f.       </strong><strong>Reaction Formation</strong></p>
<p>Bertingkah laku berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan, perasaan yang sebenarnya. Mudah dikenal karena sifatnya ekstrim dan sukar diterima. Misalnya : Seorang wanita yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.</p>
<p><strong>g.      </strong><strong>Undoing</strong></p>
<p>Meniadakan pikiran-pikiran, impuls yang tidak baik, seolah-olah menghapus suatu kesalahan. Misalnya : Seorang ibu yang menyesal karena telah memukul anaknya  akan segera memperlakukannya penuh dengan kasih sayang .</p>
<p><strong>h.      </strong><strong>Displacement</strong></p>
<p>Mengalihkan emosi, arti simbolik, fantasi dari sumber yang sebenarnya (benda, orang, keadaan) kepada orang lain, benda atau keadaan lain. Misalnya : Seorang pemuda bertengkar dengan pacarnya dan sepulangnya ke rumah marah-marah pada adik-adiknya.</p>
<p><strong>i.        </strong><strong>Sublimasi</strong></p>
<p>Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Impuls yang berasal dari Id yang sukar disalurkan oleh karena mengganggu individu atau masyarakat, oleh karena itu impuls harus dirubah bentuknya sehingga tidak merugikan individu/masyarakat sekaligus mendapatkan pemuasan Misalnya : Impuls agresif disalurkan ke olah raga, usaha-usaha yang bermanfaat</p>
<p><strong>j.        </strong><strong>Acting Out</strong></p>
<p>Langsung mencetuskan perasaan bila keinginan terhalang. Misalnya : Mengatasi problem dengan jalan paling sedikit bertengkar.</p>
<p><strong>k.      </strong><strong>Denial</strong></p>
<p>Menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak. Misalnya :Seorang gadis yang telah putus dengan pacarnya, menghindarkan diri dari pembicaraan mengenai pacar, perkawinan atau kebahagiaan .</p>
<p><strong>l.        </strong><strong>Kompensasi</strong></p>
<p>Menutupi kelemahan dengan menonjolkan kemampuannya atau kelebihannya. Misalnya : Saddam yang merasa fisiknya pendek sebagai sesuatu yang negatif, berusaha dalam hal menonjolkan prestasi pendidikannya</p>
<p><strong>m.    </strong><strong>Rasionalisasi</strong></p>
<p>Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional, sehingga tidak menjatuhkan harga dirinya. Misalnya : Munawir yang menyalahkan cara mengajar dosennya ketika ditanyakan oleh orang tuanya mengapa nilai semesternya buruk.</p>
<p><strong>n.      </strong><strong>Fiksasi</strong></p>
<p>Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi atau tingkah laku atau pikiran, dsb) sehingga perkembangan selanjutnya terhambat. Misalnya : Seorang gadis yang tetap berbicara kekanak-kanakan atau seseorang yang tidak dapat mandiri dan selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya dan orang lain.</p>
<p><strong>o.      </strong><strong>Simbolisasi</strong></p>
<p>Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang sebenarnya Misalnya : Seorang anak remaja selalu mencuci tangan untuk menghilangkan kegelisahannya/kecemasannya. Setelah ditelusuri, ternyata ia pernah melakukan masturbasi sehingga perasaan berdosa/cemas dan merasa kotor</p>
<p><strong>p.      </strong><strong>Disosiasi</strong></p>
<p>Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran /identitasnya. Keadaan dimana terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang individu. Misalnya : Seorang laki-laki yang dibawa ke ruang emergensi karena mengamuk ternyata tidak mampu menjelaskan kembali kejadian tersebut (ia lupa sama sekali).</p>
<p><strong>q.      </strong><strong>Konversi</strong></p>
<p>Adalah transformasi konflik emosional ke dalam bentuk gejala-gejala jasmani. Misalnya : Seorang mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas-tugasnya tiba-tiba merasa sakit sehingga tidak masuk kuliah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=278&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/10/21/konsep-stress-dan-adaptasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengukuran Keseimbangan Asam Basa</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengukuran-keseimbangan-asam-basa/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengukuran-keseimbangan-asam-basa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Indikator adalah senyawa kompleks yang bisa bereaksi dengan asam dan basa. Indikator digunakan untuk mengidentifikasi apakah suatu zat bersifat asam atau basa. Selain itu, indikator juga digunakan untuk mengetahui titik tingkat kekuatan asam atau basa. Skala keasaman dan kebasaan ditunjukkan oleh besar-kecilnya nilai pH yang skalanya dari 0 sampai dengan 14. Semakin kecil nilai pH [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=256&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indikator adalah senyawa kompleks yang bisa bereaksi dengan asam dan basa. Indikator digunakan untuk mengidentifikasi apakah suatu zat bersifat asam atau basa. Selain itu, indikator juga digunakan untuk mengetahui titik tingkat kekuatan asam atau basa. Skala keasaman dan kebasaan ditunjukkan oleh besar-kecilnya nilai pH yang skalanya dari 0 sampai dengan 14. Semakin kecil nilai pH maka senyawa tersebut semakin asam. Sebaliknya, semakin besar nilai pH maka senyawa tersebut semakin bersifat basa.<span id="more-256"></span></p>
<p>Indikator dapat terbuat dari zat warna alami tanaman atau dibuat secara sintetis di laboratorium. Syarat dapat atau tidaknya suatu zat dijadikan indikator asam-basa adalah bisa terjadi perubahan warna apabila suatu indikator diteteskan pada larutan asam atau basa. <strong>Berikut ini ragam indikator.</strong><strong></strong></p>
<ul>
<li>Indikator alami (terbuat dari zat warna alami tumbuhan) Indikator alami hanya bisa menunjukkan apakah zat tersebut bersifat asam atau basa, tetapi tidak dapat menunjukan nilai pH-nya. Contohnya Ekstrak bunga mawar. Ekstrak kembang sepatu. Ekstrak kunyit. Ekstrak temulawak. Ekstrak wortel. Ekstrak kol (kubis) merah. Tanaman Hydrangea.</li>
<li>Indikator sintetis yang umum ini digunakan di laboratorium adalah: Kertas lakmus. Indikator lakmus tidak dapat menunjukkan nilai pH, tetapi hanya mengidentlfikasikan apakah suatu zat bersifat basa atau asam. Jika lakmus berwarna merah berarti zat bersifat asam dan jika lakmus berwarna biru berarti lakmus bersifat basa.</li>
</ul>
<p><strong>Indikator sintesis, yang memiliki kisaran nilai pH adalah:</strong></p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left"><strong>Nama indikator</strong><strong></strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left"><strong>trayek pH</strong><strong></strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left"><strong>Perubahan warna</strong><strong></strong></p>
<p align="left"><strong> </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left">fenolftalein (pp)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">8,3-10</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">tak berwarna-merah muda</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left">Metil orange(Mo)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">3,2-4,4</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">Merah-kuning</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left">Metil merah (Mm)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">4,8-6,0</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">Merah-kuning</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left">Bromtimol biru (Bb)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">6,0-7,6</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">Kuning-biru</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="left">Metil biru (Mb)</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">10,6-13,4</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="left">Biru-ungu</p>
<p align="left">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Indikator universal, yakni indikator yang punya warna standar yang berbeda untuk setiap nilai pH 1 &#8211; 14. Fungsi indikator universal adalah untuk memeriksa derajat keasaman (pH) suatu zat secara akurat. Mat yang termasuk indikator universal adalah pH meter yang menghasilkan data pembacaan indikator secara digital.<strong></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=256&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengukuran-keseimbangan-asam-basa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelainan akibat pH</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/kelainan-akibat-ph/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/kelainan-akibat-ph/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah. Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=254&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah. Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.<br />
Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. <span id="more-254"></span>Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya masalah metabolisme yang serius.<br />
Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya. Asidosis metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal. Asidosis respiratorik atau alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan.<br />
a. Asidosis Respiratorik<br />
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam.<br />
Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:<br />
• Emfisema<br />
• Bronkitis kronis<br />
• Pneumonia berat<br />
• Edema pulmoner<br />
• Asma<br />
Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan. Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan.<br />
b. Asidosis Metabolik<br />
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.<br />
Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama:<br />
• Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun. Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol). Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.<br />
• Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme. Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu di antaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula.<br />
• Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normal pun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis (ATR) atau rhenal tubular acidosis (RTA), yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.<br />
Penyebab utama dari asidois metabolik :<br />
• Gagal ginjal<br />
• Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)<br />
• Ketoasidosis diabetikum<br />
• Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)<br />
• Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida<br />
• Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena diare, ileostomi atau kolostomi.<br />
c. Alkalosis Respiratorik<br />
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah. Penyebab alkalosis respiratorik adalah pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:<br />
• rasa nyeri<br />
• sirosis hati<br />
• kadar oksigen darah yang rendah<br />
• demam<br />
• overdosis aspirin.<br />
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya. Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali.<br />
Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.<br />
d. Alkalosis Metabolik<br />
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat.<br />
Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut).<br />
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah. Penyebab utama akalosis metabolik:<br />
• Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)<br />
• Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung<br />
• Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibatpenggunaankortikosteroid).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=254&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/kelainan-akibat-ph/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGENDALIAN ASAM BASA</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengendalian-asam-basa/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengendalian-asam-basa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Asam adalah setiap senyawa kimia yang melepas ion hidrogen kesuatu larutan atau kesenyawa biasa. Contoh asam klorida ( HCl), yang berionisasi dalam air membentuk ion-ion hidrogen ( H+) dan ion klorida ( Cl-). Demikian juga, asam karbonat (H2CO3) berionisasi dalam air membentuk ion H+ dan ion bikarbonat ( HCO3-). Basa adalah senyawa kimia yang menerima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=252&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Asam adalah setiap senyawa kimia yang melepas ion hidrogen kesuatu larutan atau kesenyawa biasa. Contoh asam klorida ( HCl), yang berionisasi dalam air membentuk ion-ion hidrogen ( H+) dan ion klorida ( Cl-). Demikian juga, asam karbonat (H2CO3) berionisasi dalam air membentuk ion H+ dan ion bikarbonat ( HCO3-).<br />
Basa adalah senyawa kimia yang menerima ion hidrogen. <span id="more-252"></span>Contoh, ion bikarbonat HCO3-, adalah suatu basa karena dapat menerima ion H+ untuk membentuk asam karbonat (H2CO3). Demikian juga fospat (HPO4) suatu basa karena dapat membentuk asam fospat (H2PO4). Protein-protein dalam tubuh juga berfungsi sebagai basa karena beberapa asam amino yang membangun protein dengan muatan akhir negatif siap menerima ion-ion hidrogen.<br />
Asam kuat adalah asam yang berdisosiasi dengan cepat dan terutama melepaskan sejumlah besar ion H+ dalam larutan. Contohnya HCl.<br />
Asam lemah mempunyai lebih sedikit kecendrungan untuk berdisosiasikan ion-ionnya dan oleh karena itu kurang melepaskan H+. contohnya H2CO3.<br />
Basa kuat adalah suatu basa yang secara cepat dan kuat dengan H+ dan oleh karena itu dengan cepat menghilangkannya dari larutan. Contoh ion hidroksil (OH-), yang bereaksi dengan cepat membentuk air (H2O).<br />
Basa lemah adalah basa yang secara lemah bereaksi dengan ion H+. Contohnya HC03-Konsentrasi ion hidrogen dan PH.<br />
Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:<br />
a. Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.<br />
b. Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya asam kuat.<br />
c. Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.<br />
d. Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.<br />
Darah memiliki ph antara 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan ph yang sangat kecilpun dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ.<br />
Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah:<br />
a. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari.<br />
b. Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Suatu penyangga pH bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan. Ada 4 sistem penyangga dalam cairan tubuh :<br />
1) Sistem penyangga bikarbonat, sistem ini terdiri dari larutan air yang mengandung dua zat : asam lemah H2CO3 dan garam bikarbonat NaHCO3. H2CO3 dibentuk dalam tubuh oleh reaksi CO2 dan H2O,yang dikatalisator oleh enzim karbonik anhidrase. CO2 + H2O H2CO3.<br />
Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida. Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat.<br />
2) Sistem penyangga fosfat bekerja dalam cara yang serupa untuk mengubah asam kuat menjadi asam lemah dan basa kuat menjdi basa lemah. Natrium hidrogen fosfat (Na2HPO4) adalah basa lemah dan natrium dihidrogen fosfat (Na H2PO4) adalah asam lemah. HCl + Na2HPO4 ↔ NaH2PO4 + NaCl. NaOH + NaH2PO4 ↔ Na2HPO4 + H2O<br />
3) Sistem protein, merupakan sistem penyangga terkuat dalam tubuh. Karena mengandung gugus karboksil yang berfungsi sebagai asam dan gugus amino yang berfungsi sebagai basa.<br />
4) Sistem Hemoglobin dalam sel darah merah berfungsi sebagai penyangga pembentukan H+ saat terjadi transpor CO2 di antara jaringan paru.<br />
c. Pembuangan karbondioksida. Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan). Pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Jika pernafasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam. Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=252&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/pengendalian-asam-basa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hipoksemia, hipoksia, hiperkapnia, dan hipokapnia</title>
		<link>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/gangguan-sistem-transportasi-oksigen-dan-karbon-dioksida/</link>
		<comments>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/gangguan-sistem-transportasi-oksigen-dan-karbon-dioksida/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangayuudara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangayuudara.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[a. Hipoksemia dan Hipoksia Istilah hipoksemia menyatakan nilai PaO2 yang rendah dan seringkali ada hubungannya dengan hipoksia, atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai. Hipoksemia tak selalu disertasi dengan hipoksia jaringan. Seseorang masih dapat mempunyai oksigenasi jaringan yang normal, tapi menderita hipoksemia; seperti juga seseorang masih dapat memiliki PaO2 normal tetapi menderita hipoksia jaringan (karena gangguan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=248&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>a. Hipoksemia dan Hipoksia</strong><br />
Istilah hipoksemia menyatakan nilai PaO2 yang rendah dan seringkali ada hubungannya dengan hipoksia, atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai. Hipoksemia tak selalu disertasi dengan hipoksia jaringan. Seseorang masih dapat mempunyai oksigenasi jaringan yang normal, tapi menderita hipoksemia; seperti juga seseorang masih dapat memiliki PaO2 normal tetapi menderita hipoksia jaringan (karena gangguan pengiriman oksigen dan penggunaan oksigen oleh sel-sel). Tetapi ada hubungan antara PaO2 dengan hipoksia jaringan, meskipun terdapat nilai PaO2 yang tepat pada jaringan yang menggunakan O2. <span id="more-248"></span>Kalau semua dianggap sama, makin cepat timbulnya hipoksemia, semakin berat pula kelainan jaringan yang diderita. Pada umumnya nilai PaO2 yang terus menerus kurang dari 50 mmHg disertai hipoksia jaringan dan asidosis (yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik). Hipoksia dapat terjadi pada nilai PaO2 normal maupun rendah sehingga evaluasi pengukuran gas darah harus selalu dikaitkan dengan pengamatan klinik dari pasien yang bersangkutan. Sianosis merupakan satu tanda yang tidak dapat diandalkan karena SaO2 harus kurang dari 75% pada orang dengan kadar Hb normal sebelum tanda itu dapat diketahui.<br />
<strong>b. Hiperkapnia dan Hipokapnia</strong><br />
Seperti halnya ventilasi, yang dianggap memadai bila suplai O2 seimbang dengan kebutuhan O2, pembuangan CO2 melalui paru baru dianggap memadai bila pembuangannya seimbang dengan pembentukan CO2. CO2 mudah sekali mengalami difusi sehingga tekanan CO2 dalam udara alveolus sama dengan tekanan CO2 dalam darah arteri; sehingga PaCO2 merupakan gambaran ventilasi alveolus yang langsung dan segera yang berhubungan dengan kecepatan metabolisme. Dengan demikian PaCO2 digunakan untuk menilai kecukupan ventilasi alveolar karena pembuangan CO2 dari paru seimbang dengan sehingga PaCO2 langsung berkaitan dengan produksi CO2 ( CO2) dan sebaliknya berkaitan dengan ventilasi alveolar: PaCO2 α CO2/ . Ventilasi yang memadai akan mempertahankan kadar PaCO2 sebesar 40 mmHg. Hiperkapnia didefinisikan sebagai peningkatan PaCO2 sampai di atas 45 mmHg; sedangkan hipokapnia terjadi apabila PaCO2 kurang dari 35 mmHg. Penyebab langsung retensi CO2 adalah hipoventilasi alveolar (ventilasi kurang memadai, untuk mengimbangi pembentukan CO2). Hiperkapnia selalu disertai hipoksia dalam derajat tertentu apabila pasien bernapas dengan udara yang terdapat dalam ruangan. Penyebab utama hiperkapnia adalah penyakit obstruktif saluran napas, obat-obat yang menekan fungsi pernapasan, kelemahan atau paralisis otot pernapasan, trauma dada atau pembedahan abdominal yang mengakibatkan pernapasan menjadi dangkal, dan kehilangan jaringan paru. Tanda klinik yang dikaitkan dengan hiperkapnia adalah: kekacauan mental yang berkembang menjadi koma, sakit kepala (akibat vasodilatasi serebral), asteriksis atau tremor kasar pada tangan yang teregang (flapping tremor), dan volume denyut nadi yang penuh disertai tangan dan kaki yang terasa panas dan berkeringat (akibat vasodilatasi perifer karena hiperkapnia). Hiperkapnia kronik akibat penyakit paru kronik dapat mengakibatkan pasien sangat toleran terhadap PaCO2 yang tinggi, sehingga pernapasan terutama dikendalikan oleh hipoksia. Dalam keadaan ini, bila diberi oksigen kadar tinggi, pernapasan akan dihambat sehingga hiperkapnea bertambah berat. Kehilangan CO2 dari paru yang berlebihan (hipokapnia) akan terjadi apabila terjadi hiperventilasi (ventilasi dalam keadaan kebutuhan metabolisme meningkat untuk membuang CO2). Tanda dan gejala yang sering berkaitan dengan hipokapnia adalah sering mendesah dan menguap, pusing, palpitasi, tangan dan kaki kesemutan dan baal, serta kedutan otot. Hipokapnia hebat (PaCO2 &lt; 25 mmHg) dapat menyebabkan kejang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangayuudara.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangayuudara.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangayuudara.wordpress.com&amp;blog=17970702&amp;post=248&amp;subd=sangayuudara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangayuudara.wordpress.com/2011/06/21/gangguan-sistem-transportasi-oksigen-dan-karbon-dioksida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e54cfed8109381ede5e8b756e9b2cadb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangayuudara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
